Weekend adalah waktu dimana temen-temen Mahasiswa mudik ke kampung halaman, lain cerita dengan mahasiswa semester tua yang sedang sibuk sana sibuk sini entah itu di kontrakan untuk menyelesaikan tugas ( skripsi ) ataupun sibuk mencari uang saku dan sedikit demi sedikit untuk menabung meyiapkan hari esok.
Nah perjalanan kali ini adalah dari Banjarnegara ke Yogyakarta, seperti yang sudah-sudah, malam hari adalah waktu favorit saya untuk melakukan sebuah perjalanan, selain tidak panas juga tidak terlalu ramai kendaraan. Singkat cerita mampir ke Terminal Induk Banjarnegara yang konon sekarang sudah bukan milik kabupaten Banjarnegara, melainkan punya Pemerintah Pusat ( Semarang, Jawa Tengah ). Ke kios bernama Gasa Travelindo, ketemu Kak Gery Widodo, dia salah satu penikmat kopi arabika yang asamnya cukup tinggi. Sedikit banyak obrolan tentang barang jadul, salah satunya adalah rilisan fisik berbentuk kaset pita yang akhir-akhir ini menjadi hoby baru untuk dikoleksi. Setelah ngobrol panjang lebar tak terasa hujan sudah reda dan hari sudah mulai gelap, kami berdua memutuskan untuk segera bergegas, saya ke Yogyakarta dan Kak Gery pulang ke Wonosobo. Baru jalan beberapa ratus meter kemudian nyletuk “Mampir Pom Kalibenda Yakkk”, sesampainya disana juga muncul cletukan lagi “Ngopi dulu yuk”. Akhirnya memutuskan untuk ngopi dulu sejenak sebelum melanjutkan perjalanan, karena sudah di Pom Bensin Kalibenda, ya sangat logis ketika memilih tempat terdekat, ya akhirnya kami berdua mempir ke Culture Easy Lounge Coffee & Cafe, tempat ngopi yang masih satu management dengan Rumah Kopi Banjarnegara.

Culture Easy Lounge Coffee & Cafe Banjarnegara

Apa yang pertama kali dilakukan ketika sampai Culture Easy Lounge Coffee & Cafe ?

Pertama kali setelah parkir motor, kami berdua melihat kanan kiri mencari dimana tempat menyeduh kopi, jadi tidak langsung duduk cari kursi, melainkan ke Bar nyari penyeduh ( barista ) yang malam itu adalah Kak Hanggar. Ketemu Kak Hanggar, bertegur sapa, jabat tangan, ngobrol ringan dan mulai ke tahap pemesanan, “hmmmmm Arabika Bowongso Mas” ucapku memesan kopi yang sepertinya sedang cocok untuk untuk malam itu. “Sidikalang Arabika kan mas ? Aku Sidikalang ya Mas” ungkap Kak Gery memesan arabika Sidikalang. Setelah itu kami berdua memilih posisi meja & kursi yang tak jauh dari bar & kasir, biar bisa ngobrol sama baristanya.

Bar & Kasir Culture Easy Lounge Coffee & Cafe Banjarnegara

“Mas gimana kopinya, kurang gimana ? jujur saja mas, biar bisa buat koreksi saya mas” ungkap Kak Hanggar meminta testimoni secangkir kopi racikannya. Mungkin Kak Hanggar salah pilih orang untuk diberi pertanyaan itu, karena dengan sugesti bahwa semua kopi itu enak, maka saya pun juga menjawab dengan kalimat “semua kopi enak mas, tinggal gimana mood peminum kopinya, setiap berista punya ciri khas untuk seduhannya (harusnya) jadi ya ini karaktermu mas, ga usah pengin perfect untuk sebuah seduhan, seperti pepatah being unique is better than being perfect, menjadi unik itu lebih baik daripada menjadi sempurna”.

Kak Hanggar & Kak Gery sedang ngobrol hangat
Single origin Arabika Bowongso

Jadi menurut saya pribadi bahwa kopi itu pada dasarnya enak, tinggal bagaimana si penikmat kopi merasakan, menikmati, meresapi tiap kopi yang diminumnya. Dan semoga tidak over dosis, karena pada dasarnya semua yang berlebihan itu kurang sehat. “Air bening itu menyehatkan tapi ketika dikonsumsi over dosis tanpa diimbangi dengan mengkonsumsi minuman lain ya bisa jadi itu berbahaya” tambah kak Gery.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *