KEDHANAKDEHINICOFFEE.COM – Ngopi adalah sebuah ritual yang cukup candu dan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian orang, beberapa dari mereka ada yang ber statement “tiap hari harus ngopi pokoknya, ga ngopi sehari rasanya hampa hidupnya”. Oke, ngomongin soal ngopi, biasanya yang terbesit di pikiran adalah nongkrong di kedai kopi nan ciamik yang penuh dengan sajian installasi untuk foto dan free wifi yang pada akhirnya ngopi dikesampingkan. 
Curug Telu, Karangsalam, Baturraden, Purwokerto
Beberapa waktu lalu kedhanakedhinicoffee.com main ke Purwokerto, silaturahmi ke salah satu teater kampus, yaitu di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Teater Perisai. Berangkat bersama kak Gery Widodo dari Banjarnegara menuju Purwokerto, akhirnya sampailah di sekretariat Teater Perisai, istirahat sejenak, ngobrol sama temen-temen di sana dan mengagendakan untuk piknik yang ga terlalu jauh. Akhirnya kami putuskan untuk mainan air ke curug, awalnya mau ke curug Gede, namun sempat nyasar jalannya, akhirnya memutuskan ke curug Telu yang saat itu posisinya sudah di depan mata.
Di curug Telu kita hanya dikenakan retribusi Rp. 5.000,- per orang, cukup murah untuk wisata yang indah seperti ini. Dari parkitan sampai ke curug Telu ditempuh dengan jalan kaki sekitar 20 menit, itu pun sudah sembari foto-foto di perjalanan. Setibanya di curug Telu kami berempat ( Gery, Fungi, Kuying dan Penulis ) bersiap untuk ritual ngopi di pinggir curug. Pertama-tama mengambil air terjun untuk dimasak, kemudian ambil biji kopi dan hajar dengan grinder manual, sembari nyalain kompor untuk memasak air.
Proses masak air dan seduh kopi sudah selesai, saatnya main air, sesekali menepi untuk minum kopi
Menikmati keindahan alam ciptaan-Nya, menikmati dingin air, bercengkrama dengan air terjun sesekali menepi menikmati kopi adalah sebuah ritual mesra yang bisa membuat pikiran segar dan tentunya menyejukkan hati, seperti jargon “Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan”. Sungguh nikmat melebihi nikmatnya ngopi di kedai kopi ( kapitalis ) seperti Starbucks yang penuh dengan hingar bingar ke glamoran. Kopi arabika kasmaran yang dicampur sedikit kopi robusta karangkobar ( keduanya dari Banjarnegara ) diseduh dengan metode sederhana yang disebut “kopi Tubruk” sungguh melebihi nikmatnya Latte Art nan keren itu.
Menyusuri sungai di sekitar Curug Telu, nemu spot bagus buat main air.
Kami cukup lama menghabiskan waktu di Curug Telu ini, sekitar 3 jam kami bermain di sini, tak hanya sekali seduh kopi, kami seduh beberapa kali. Nah untuk temen-temen yang ingin ngopi di luar atau ngopi sambil piknik, beberapa barang yang perlu kalian bawa adalah sebagai berikut :
– Biji Kopi atau Kopi Bubuk 
– Grinder Manual ( jika hanya bawa kopi yang masih biji )
– Ceret / Kettle
– Kompor
– Gelas
Perlengkapan tersebut kiranya sudah cukup untuk ngopi sambil piknik di luar, jika kalian mau sedikit ribet ya boleh lah bawa v60 dripper, bawa vietnam drip, tidak disekomendasikan bawa mesin espresso yang besar, karena ini bakalan bikin kita ribet dan tentunya jadi beban dalam ritual ngopi sambil piknik.
Peralatan seduh yang kami bawa
Perkara ngopi adalah bagaimana proses, bagaimana cara menikmati dan bagaimana cara bersyukur kepada nikmat Tuhan. Se-perfect apapun kopi yang kita nikmati, jika dibubuhi kesombongan dan tak dinikmati karena-Nya, maka sia-sia. Ngopi bisa dijadikan sebagai mediasi, sebagai relaksasi untuk tetap di jalan-Nya, mengingat nasehat-Nya dan tentunya bersyukur atas nimat-Nya. Rock Balancing pun bisa menjadi salah satu media untuk berfikir tenang, tetap bersabar dalam setiap cobaan-Nya, yang tentunya tak akan melampaui batas kemampuan kita, semua sudah di atur sebaik-baiknya.

Rock Balancing

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *